Pengambilan Sampel
Seluruh tanaman sampel (5 tanaman) yang terserang penyakit dibongkar dengan menggunakan cangkul sampai kedalaman 25 cm dpt untuk diidentifikasi di laboratorium dan 200 gram tanah untuk pemeriksaan penyakit di dalam tanah.
Pemeriksaan bagian tanaman cabai dilaboratorium
1. Pemeriksaan langsung (Direct Inspection)
Seluruh bagian tanaman diamati langsung dari gejala serangan cendawan dengan menggunakan binokuler microscope dan dilanjutkan dengan compound microscope dengan pembesaran 10x, 40x dan 100x (Zahara,2004).
2. Metode kertas saring (Blotter Test)
Bagian tanaman disterilisasi dengan menggunakan natrium hipokhlorit 2% selama 5 menit kemudian dibilas dengan air aquadest sebanyak 3 kali dan dikeringkan dengan tissu steril. Kemudian bagian tanaman tadi disusun di atas petridish yang telah dialasi dengan kertas saring steril. Petridish diletakkan di dalam ruang inkubasi dibawah lampu NUV (Near Ultra Violet) dengan 12 jam gelap selama 7 hari. Setelah 7 hari pertumbuhan cendawan diamati dengan menggunakan compound microscope.
3. Metode Inkubasi pada Media Agar
Bagian tanaman yang sakit dan sehat dipotong (± 2 cm). Disterilkan dengan larutan natrium hipoclorit 2% selama 5 menit dan dibilas dengan air aquadest sebanyak 3 (tiga) kali dan dikeringkan dengan kertas tissu steril. Kemudian potongan tanaman tersebut disusun dalam petridish yang berisi media PDA (Potato Dextrose Agar) dan diinkubasi ± 5 hari dalam ruang inkubasi.
Senin, 16 Mei 2011
Selasa, 19 April 2011
IDENTIFIKASI VIRUS
Identifikasi virus secara tepat terhadap virus penyebab penyakit pada tanaman sangat penting untuk menentukan tindakan pengendalian yang tepat. Penyakit yang disebabkan oleh virus sering menimbulkan gejala yang mirip dengan yang disebabkan kekurangan unsur hara atau gangguan lain. Untuk memastikan sesuatu tanaman terserang virus, perlu dilakukan identifikasi untuk membuktikan tanamn tersebut mengandung partikel suatu virus.
Data yang diperoleh dari identifikasi kemudian dicocokkan dengan deksripsi mengenai virus-virus yang menyerang tanaman. Pencocokan akan lebih mudah jika kita mengetahui nama-nama virus yang menyerang suatu tanaman atau mengetahui apa tanaman inang yang rentan terhadap suatu virus.
Ada beberapa cara untuk mengidentifikasi virus pada tanaman. Untuk tapak dara, identifikasi CMV dilakukan dengan metoda menggunakan metode ELISA (Enzyme Linked Immuno-sorbent Assay) karena cukup peka pada konsentrasi virus yang rendah. Bila hasilnya positif, dapat dipastikan tanaman yang menampakkan gejala mosaik hijau pada daun terinfeksi CMV
Sumber: Indijarto Budi Rahardjo
Data yang diperoleh dari identifikasi kemudian dicocokkan dengan deksripsi mengenai virus-virus yang menyerang tanaman. Pencocokan akan lebih mudah jika kita mengetahui nama-nama virus yang menyerang suatu tanaman atau mengetahui apa tanaman inang yang rentan terhadap suatu virus.
Ada beberapa cara untuk mengidentifikasi virus pada tanaman. Untuk tapak dara, identifikasi CMV dilakukan dengan metoda menggunakan metode ELISA (Enzyme Linked Immuno-sorbent Assay) karena cukup peka pada konsentrasi virus yang rendah. Bila hasilnya positif, dapat dipastikan tanaman yang menampakkan gejala mosaik hijau pada daun terinfeksi CMV
Sumber: Indijarto Budi Rahardjo
Senin, 18 April 2011
Identifikasi Cendawan
IDENTIFIKASI JENIS CENDAWAN PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annum)
PADA TOPOGRAFI YANG BERBEDA
Cara Mengidentfikasinya:
Pengambilan Sampel
Seluruh tanaman sampel (5 tanaman) yang terserang penyakit dibongkar dengan menggunakan cangkul sampai kedalaman 25 cm dpt untuk diidentifikasi di laboratorium dan 200 gram tanah untuk pemeriksaan penyakit di dalam tanah.
Pemeriksaan bagian tanaman cabai dilaboratorium
1. Pemeriksaan langsung (Direct Inspection)
Seluruh bagian tanaman diamati langsung dari gejala serangan cendawan dengan menggunakan binokuler microscope dan dilanjutkan dengan compound microscope dengan pembesaran 10x, 40x dan 100x (Zahara,2004).
2. Metode kertas saring (Blotter Test)
Bagian tanaman disterilisasi dengan menggunakan natrium hipokhlorit 2% selama 5 menit kemudian dibilas dengan air aquadest sebanyak 3 kali dan dikeringkan dengan tissu steril. Kemudian bagian tanaman tadi disusun di atas petridish yang telah dialasi dengan kertas saring steril. Petridish diletakkan di dalam ruang inkubasi dibawah lampu NUV (Near Ultra Violet) dengan 12 jam gelap selama 7 hari. Setelah 7 hari pertumbuhan cendawan diamati dengan menggunakan compound microscope.
3. Metode Inkubasi pada Media Agar
Bagian tanaman yang sakit dan sehat dipotong (± 2 cm). Disterilkan dengan larutan natrium hipoclorit 2% selama 5 menit dan dibilas dengan air aquadest sebanyak 3 (tiga) kali dan dikeringkan dengan kertas tissu steril. Kemudian potongan tanaman tersebut disusun dalam petridish yang berisi media PDA (Potato Dextrose Agar) dan diinkubasi ± 5 hari dalam ruang inkubasi.
Pengambilan Sampel
Seluruh tanaman sampel (5 tanaman) yang terserang penyakit dibongkar dengan menggunakan cangkul sampai kedalaman 25 cm dpt untuk diidentifikasi di laboratorium dan 200 gram tanah untuk pemeriksaan penyakit di dalam tanah.
Pemeriksaan bagian tanaman cabai dilaboratorium
1. Pemeriksaan langsung (Direct Inspection)
Seluruh bagian tanaman diamati langsung dari gejala serangan cendawan dengan menggunakan binokuler microscope dan dilanjutkan dengan compound microscope dengan pembesaran 10x, 40x dan 100x (Zahara,2004).
2. Metode kertas saring (Blotter Test)
Bagian tanaman disterilisasi dengan menggunakan natrium hipokhlorit 2% selama 5 menit kemudian dibilas dengan air aquadest sebanyak 3 kali dan dikeringkan dengan tissu steril. Kemudian bagian tanaman tadi disusun di atas petridish yang telah dialasi dengan kertas saring steril. Petridish diletakkan di dalam ruang inkubasi dibawah lampu NUV (Near Ultra Violet) dengan 12 jam gelap selama 7 hari. Setelah 7 hari pertumbuhan cendawan diamati dengan menggunakan compound microscope.
3. Metode Inkubasi pada Media Agar
Bagian tanaman yang sakit dan sehat dipotong (± 2 cm). Disterilkan dengan larutan natrium hipoclorit 2% selama 5 menit dan dibilas dengan air aquadest sebanyak 3 (tiga) kali dan dikeringkan dengan kertas tissu steril. Kemudian potongan tanaman tersebut disusun dalam petridish yang berisi media PDA (Potato Dextrose Agar) dan diinkubasi ± 5 hari dalam ruang inkubasi.
Peubah amatan
1. Lingkungan Fisik dan Kimia
a. Suhu udara, kelembaban udara, suhu tanah dan ph tanah diukur pada saat pengambilan sampel dengan menggunakan thermometer, hydrometer dan ph tanah.
b. Carbon, Nitrogen dan kadar organik tanah dianalisa di laboratorium dengan cara menimbang 25 gram tanah kemudian dipanaskan dalam oven pada suhu 600C selam 3 jam.
2. Jenis cendawan pada tanaman cabai
kesimpulan
1. Terdapat perbedaan yang nyata terhadap keragaman jenis cendawan pada ketinggian 0-300 mdpl dengan rata-rata 5.33 dan ketinggian 301-600 mdpl dengan rata-rata 9.33, tidak berbeda nyata pada ketinggian 301-600 mdpl dan 601-900 mdpl.
2. Terdapat 7 jenis cendawan pada ketinggian 0-300 mdpl, 15 jenis cendawan pada ketinggian 301-600 mdpl dan 19 jenis cendawan pada ketinggian 601-900 mdpl.
3. Pada ketinggian 0-300 mdpl cendawan yang diidentifikasi ada 7 jenis cendawan yaitu Fusarium semitectum, Penicillium digitatum, Collectottrichum dematium, Fusarium solani, Fusarium reticulatum, Fusarium nivale, Oidium sp, pada ketinggian 301– 600 mdpl terdapat 15 jenis cendawan yaitu Fusarium semitectum, Alternaria solani, Curvularia lunata, Collectottrichum dematium, Fusarium solani, Fusarium reticulatum, Fusarium acuminatum, Fusarium anthopilum, Oidium sp, Alternaria casipora, Fusarium moniliforme, Fusarium chlamydosporium, Aspergillus flavus, Fusarium dimerium, Aspergillus niger dan pada ketinggian 601-900 mdpl ada 19 jenis cendawan yaitu Fusarium semitectum, Alternaria solani, Curvularia lunata, Penicillium digitatum, Colletotrichum dematium, Fusarium solani, Fusarium reticulatum, Fusarium nivale, Fusarium acuminatum, Dactylosporium macropas, Oidium sp, Alternaria casipora, Fusarium moniliforme, Fusarium clamysosporium, Fusarium graminearum, Aspergillus flavus, Fusarium dimerium , Aspergillus niger, Diplococcium spicatum.
sumber :
http://www.bbkpbelawan.deptan.go.id/Karya%20Tulis/Cendawan.pdf
PADA TOPOGRAFI YANG BERBEDA
Cara Mengidentfikasinya:
Pengambilan Sampel
Seluruh tanaman sampel (5 tanaman) yang terserang penyakit dibongkar dengan menggunakan cangkul sampai kedalaman 25 cm dpt untuk diidentifikasi di laboratorium dan 200 gram tanah untuk pemeriksaan penyakit di dalam tanah.
Pemeriksaan bagian tanaman cabai dilaboratorium
1. Pemeriksaan langsung (Direct Inspection)
Seluruh bagian tanaman diamati langsung dari gejala serangan cendawan dengan menggunakan binokuler microscope dan dilanjutkan dengan compound microscope dengan pembesaran 10x, 40x dan 100x (Zahara,2004).
2. Metode kertas saring (Blotter Test)
Bagian tanaman disterilisasi dengan menggunakan natrium hipokhlorit 2% selama 5 menit kemudian dibilas dengan air aquadest sebanyak 3 kali dan dikeringkan dengan tissu steril. Kemudian bagian tanaman tadi disusun di atas petridish yang telah dialasi dengan kertas saring steril. Petridish diletakkan di dalam ruang inkubasi dibawah lampu NUV (Near Ultra Violet) dengan 12 jam gelap selama 7 hari. Setelah 7 hari pertumbuhan cendawan diamati dengan menggunakan compound microscope.
3. Metode Inkubasi pada Media Agar
Bagian tanaman yang sakit dan sehat dipotong (± 2 cm). Disterilkan dengan larutan natrium hipoclorit 2% selama 5 menit dan dibilas dengan air aquadest sebanyak 3 (tiga) kali dan dikeringkan dengan kertas tissu steril. Kemudian potongan tanaman tersebut disusun dalam petridish yang berisi media PDA (Potato Dextrose Agar) dan diinkubasi ± 5 hari dalam ruang inkubasi.
Pengambilan Sampel
Seluruh tanaman sampel (5 tanaman) yang terserang penyakit dibongkar dengan menggunakan cangkul sampai kedalaman 25 cm dpt untuk diidentifikasi di laboratorium dan 200 gram tanah untuk pemeriksaan penyakit di dalam tanah.
Pemeriksaan bagian tanaman cabai dilaboratorium
1. Pemeriksaan langsung (Direct Inspection)
Seluruh bagian tanaman diamati langsung dari gejala serangan cendawan dengan menggunakan binokuler microscope dan dilanjutkan dengan compound microscope dengan pembesaran 10x, 40x dan 100x (Zahara,2004).
2. Metode kertas saring (Blotter Test)
Bagian tanaman disterilisasi dengan menggunakan natrium hipokhlorit 2% selama 5 menit kemudian dibilas dengan air aquadest sebanyak 3 kali dan dikeringkan dengan tissu steril. Kemudian bagian tanaman tadi disusun di atas petridish yang telah dialasi dengan kertas saring steril. Petridish diletakkan di dalam ruang inkubasi dibawah lampu NUV (Near Ultra Violet) dengan 12 jam gelap selama 7 hari. Setelah 7 hari pertumbuhan cendawan diamati dengan menggunakan compound microscope.
3. Metode Inkubasi pada Media Agar
Bagian tanaman yang sakit dan sehat dipotong (± 2 cm). Disterilkan dengan larutan natrium hipoclorit 2% selama 5 menit dan dibilas dengan air aquadest sebanyak 3 (tiga) kali dan dikeringkan dengan kertas tissu steril. Kemudian potongan tanaman tersebut disusun dalam petridish yang berisi media PDA (Potato Dextrose Agar) dan diinkubasi ± 5 hari dalam ruang inkubasi.
Peubah amatan
1. Lingkungan Fisik dan Kimia
a. Suhu udara, kelembaban udara, suhu tanah dan ph tanah diukur pada saat pengambilan sampel dengan menggunakan thermometer, hydrometer dan ph tanah.
b. Carbon, Nitrogen dan kadar organik tanah dianalisa di laboratorium dengan cara menimbang 25 gram tanah kemudian dipanaskan dalam oven pada suhu 600C selam 3 jam.
2. Jenis cendawan pada tanaman cabai
kesimpulan
1. Terdapat perbedaan yang nyata terhadap keragaman jenis cendawan pada ketinggian 0-300 mdpl dengan rata-rata 5.33 dan ketinggian 301-600 mdpl dengan rata-rata 9.33, tidak berbeda nyata pada ketinggian 301-600 mdpl dan 601-900 mdpl.
2. Terdapat 7 jenis cendawan pada ketinggian 0-300 mdpl, 15 jenis cendawan pada ketinggian 301-600 mdpl dan 19 jenis cendawan pada ketinggian 601-900 mdpl.
3. Pada ketinggian 0-300 mdpl cendawan yang diidentifikasi ada 7 jenis cendawan yaitu Fusarium semitectum, Penicillium digitatum, Collectottrichum dematium, Fusarium solani, Fusarium reticulatum, Fusarium nivale, Oidium sp, pada ketinggian 301– 600 mdpl terdapat 15 jenis cendawan yaitu Fusarium semitectum, Alternaria solani, Curvularia lunata, Collectottrichum dematium, Fusarium solani, Fusarium reticulatum, Fusarium acuminatum, Fusarium anthopilum, Oidium sp, Alternaria casipora, Fusarium moniliforme, Fusarium chlamydosporium, Aspergillus flavus, Fusarium dimerium, Aspergillus niger dan pada ketinggian 601-900 mdpl ada 19 jenis cendawan yaitu Fusarium semitectum, Alternaria solani, Curvularia lunata, Penicillium digitatum, Colletotrichum dematium, Fusarium solani, Fusarium reticulatum, Fusarium nivale, Fusarium acuminatum, Dactylosporium macropas, Oidium sp, Alternaria casipora, Fusarium moniliforme, Fusarium clamysosporium, Fusarium graminearum, Aspergillus flavus, Fusarium dimerium , Aspergillus niger, Diplococcium spicatum.
sumber :
http://www.bbkpbelawan.deptan.go.id/Karya%20Tulis/Cendawan.pdf
Rabu, 06 April 2011
IDENTIFIKASI BAKTERI
KUNCI AWAL IDENTIFIKASI BAKTERI
( morfologi koloni, morfologi sel dan pewarnaan gram)
Hal pertama yang dilakukan adalah mengamati ciri-ciri morfologi koloni, morfologi sel dan sifat gramnya.
Pastikan isolat yang akan diuji adalah kultur murni, benar-benar murni dan telah yakin tentang kemurniannya. Jadi jika diperoleh suatu kultur murni dari suatu lingkungan dan diyakini belum murni maka haruslah diisolasi ulang, maksudnya dimurnikan lagi sampai benar-benar pasti. Lihat gambar berikut :
1 jika tidak yakin benar ini kultur murni atau tidak.
2 lakukan streak kuadran, minimal ke dua cawan (karena kalau salah satu gagal membentuk koloni tunggal, maka masih ada cadangannya).
3 lihat hasil streak kuadran, apakah tampak koloni tunggal?, koloni tunggal adalah koloni yang timbul/tumbuh dari satu sel atau beberapa kumpulan sel (untuk staphylococcus misalnya), bukan dari beberapa ratus sel.
Istilah yang paling mendekati adalah CFU’s. Jadi dipastikan satu koloni itu adalah satu jenis bahkan satu strain. Umumnya koloni tunggal itu kecil-kecil(misalnya E.coli,1-2mm), ada juga yang besar. Faktor-faktornya mungkin adalah kecepatan pertumbuhannya dan stuktur sel itu sendiri (bayangkan sel E.coli yang sendiri-sendiri akan mudah terpisah saat digoreskan ke permukaan agar dibanding sel streptococcus.
4 jika didapatkan koloni tunggal, segera diamankan dengan menumbuhkan pada media baru (minimal 5). Kenapa harus banyak?, karena untuk menanggulangi cawan yang kontaminan, membuat stok kultur dan mencegah kejadian yang tidak diinginkan (kehilangan cawan misalnya).
5 setiap menumbuhkan ke medium baru, sebaiknya harus dicek koloninya, apakah sama dengan cawan induknya atau tidak. Jika perlu cek juga morfologi selnya.
6 sekarang kita telah memiliki beberapa kultur murni dan siap untuk diidentifikasi.
Salah satu cawan dari kultur murni tersebut lalu dikarakterisasi morfologi koloninya. Ciri-ciri koloni yang perlu diperhatikan dan dicatat yaitu bentuk koloni, tepian koloni, elevasi dll. Tapi perlu diingat jika hanya mencatat karakteristik berdasarkan ciri di atas, kita tidak terlalu hafal oleh karena itu perlu untuk digambar. Menggambar koloni itu tidak mudah. Yang perlu digambar adalah koloni tunggal, bukan koloni yang besar.jika menginginkan hasil lebih bagus sebaiknya memakai kamera dijital. Umumnya koloni tunggal itu kecil-kecil dengan satuan mm. Jadi beberapa saran untuk menggambar koloni yaitu:
- cari koloni tunggal lalu gambar hati-hati dengan pensil (sebaiknya dengan skala 1:1) tanpa perbesaran. Gambar dengan mata telanjang.
- gambar koloni lebih detail dengan mikroskop stereo atau mikroskop cahaya. Saya sarankan untuk menggunakan mikroskop cahaya. Mula-mula dengan perbesaran 4X10. jika menggunakan mikroskop cahaya penempatan cawan di meja benda harus hati-hati. Perlu digambar tampak atas dan bawah cawan. Jika menginginkan perbesaran yang lebih tinggi dapat digunakan perbesaran 10X10, tapi jangan sampai lensa mengenai media atau biakan.
Untuk melihat sel maka hal yang harus dilakukan :
o Membuat preparat ulas. Saran: jangan membuat preparat ulas dari biakan cair, karena dikhawatirkan yang tumbuh bukan yang kita harapkan. Buatlah preparat ulas dari biakan padat (koloni tunggal) sehingga milyaran bakteri dalam preparat ulas tersebut adalah satu jenis. Fiksasi di atas api sebaiknya jangan dilakukan terlalu lama. Intinya fiksasi adalah menguapkan air di atas slide, bukan membakar slide dengan api. Dikhawatirkan panas akan mempengaruhi struktur sel.
o Melihat dengan mikroskop. Apakah Anda menginginkan melihat sel tersebut dalam keadaan hidup atau mati? Jika hidup keuntungannya adalah dapat mengecek motilitasnya. Namun sel bersifat transparan dan sulit terlihat bagi mata yang tidak terlatih. Jika mati (hasil fiksasi) maka sel dapat diwarnai dengan zat pewarna dan akan terkonsentrasi untuk melihat morfologinya saja. Untuk melihat sel gunakan 100X10.
Catatan : ada beberapa catatan pentingyang terkait dengan keahlian mencari lapang pandang yang relevan, bagus dan jelas.
=Kadang-kadang waktu membuat preparat ulas, kita seringkali menyebarkan suspensi tidak merata (seperti gambar). Kita harus tahu kira-kira dimana tempat/letak lapang pandang yang menampakkan sel-sel terpisah satu sama lain.untuk mendapatkan gambar yang bagus, harus dicari dimana kira-kira bagian slide yang memiliki jumlah sel yang tepat. Pada saat perbesaran 4X10, geser-geser dan cari daerah ”pinggiran”, maksudnya jika pemfiksasian tidak rata pasti terdapat penumpukan sel di suatu tempat atau pengonsentrasian sel, jadi kalau memilih di ”pinggir”, kita dapat melihat sel-sel yang jelas.
=Seingkali ditemukan pada preparat ulas basah (hidup) sel dari bakteri bacilli yang berbentuk coccus.. Sel bakteri berukuran sangat kecil dan tebal lapisan air tipis diantara cover glass dan object glass masih bisa menampung beberapa bakteri bacilli yang ditumpuk vertikal, artinya tebal tersebut masih bisa digunakan sel untuk berenang ke atas dan ke bawah. Jangan menganggap gambar yang terlihat pada mikroskop adalah gambar datar 2D. Lihat gambar
=Gunakan kontrol. Kontrol sangat penting, meskipun sulit untuk mendapatkannya. Akan lebih baik jika bakteri yang dilihat dapat dibandingkan dengan bakteri lain yang telah diketahui bentuknya dengan pasti.
Data yang dihasilkan sampai tahap ini berupa karakteristik morfologi koloni dan sel yang dapat dipercaya. Tahap selanjutnya berupa pewarnaan gram. Pewarnaan gram menurut saya tidak hanya menambahkan semua pewarna dan reagen secara berurutan tetapi kita harus dapat membayangkan apa yang terjadi dengan bakteri tersebut.
Sebelum melakukannya, hal yang harus diperhatikan adalah:
· Cek tanggal pembuatan zat warna dan reagen, umumnya zat warna lebih tahan lama. Namun lebih baik menggunakan yang baru. Paling tidak tidak lebih dari setengah tahun.
· Persiapkan kontrol, kontrol yang ampuh adalah E. coli dan B. Subtilis. Kontrol juga harus dalam keadaan murni. Kontrol juga dapat diperoleh dengan mengambil lapisan film langit-langit mulut atau gigi. Di dalamnya mengandung bakteri gram positif dan negatif. Namun sering kali sulit membedakan antara kotoran dan bakteri.
· Pastikan semua kultur berumur tidak lebih dari 24 jam. Kultur muda lebih baik dari kultur tua karena seringkali gram positif kehilangan kemampuan membentuk dinding selnya pada kultur tua.
CV-----------;Kalium Iodida-----------Alkohol 95%--------Safranin
Inti dari pewarnaan gram adalah membedakan sifat ”kulit” sel dalam mempertahankan kompleks CV-KI dari pelunturan (dekolorisasi) oleh etanol/alkohol 95%. Jadi dengan menganalisa dan membuat tahapan ini menjadi meyakinkan sebenarnya sudah cukup untuk mengambil kesimpulan tentang sifat gram bakteri uji. Pengontras hanya untuk memperkuat perbedaan saja.
Saran1
Hasil tiap perlakuan dilihat dengan mikroskop sehingga dapat benar-benar tahu apa yang terjadi pada sel. Warna CV sebelum ditambah KI berwarna ungu cerah, tapi setelah ditambah KI menjadi biru kehitaman.
Saran 2
.Benar-benar diperhatikan tahapan paling krusial dalam pewarnaan gram yaitu dekolorisasi. Alkohol dapat diteteskan pada sela-sela cover glass dan object glass sehingga dapat diamati detik-detik terjadinya pelunturan. Disarankan dari berbagai sumber pelunturan dilakukan selama 5 detik dan ada yang menyebutkan 10 detik. Bakteri gram+ tidak selalu dapat mempertahankan kompleks CV-KI, namun hanya mempertahankannya lebih lama dibanding gram-. Jadi diperlukan stopwatch untuk menghitung waktu pelunturan dari bakteri uji dan kontrol. Untuk menekan kesalahan lakukan hal ini beberapa kali.
Saran 3
Buatlah preparat ulas dari ketiga bakteri (kontrol +&- dan uji) dalam satu slide. Usahakan jangan sampai tercampur dan dalam satu luasan cover glass melingkupi ulasan 3 bakteri ini. Tujuannya supaya memudahkan dalam membandingkan bakteri uji dengan kontrol dan juga memperkecil kesalahan saat pelunturan karena semua bakteri diberi perlakuan yang sama.
Saran 4. kroscek hasil pewarnaan gram konvensional dengan metode lain yaitu dengan KOH 3%.
Setelah tahapan ini selesai maka didapatkan data yang diyakini benar, kemudian dapat dilanjutkan ke pengerucutan identifikasi berikutnya dengan melihat BERGEY’S, kitabnya para bacteriologist.
Sumber: http://ekmon-saurus.blogspot.com/2008/09/kunci-awal-identifikasi-bakteri.htmlJumat, 01 April 2011
Klinik Tanaman
MATA KULIAH KLINIK TANAMAN FAPERTA UNSRI PALEMBANG
Klinik Tanaman
Klinik tanaman merupakan suatu tempat dimana dilaksanakannya suatu pelajaran pada masyarakat yang berhubungan dengan gangguan pada tanaman yang diusahakan, atau bisa juga diartikan sebagai wadah penyaluran.
Tujuan dan fungsi klinik tanaman:
1. Menghadap masalah tanaman sakit atau tanaman yang terserang hama untuk dicari solusi pemecahan
masalahnya, masalah yang diatasi juga tergantung penyebabnya.
2. Memberikan informasi teknologi PHT kepada petani dan lainnya yang bersangkutan
3. Wadah dimana staff pengajar dan mahasiswa untuk menangani permasalahan hama dan penyakit di
lapangan
4. Tempat komunikasi respon baik bagi masyarakat tentang apa yang dialami atau masalah yang dihadapi
oleh petani dan lainnya yang dapat menjadi bahan penelitian dan memperkarya dalam pengajaran dikelas.
Klinik ini bisa dipegang oleh petani, pengusaha, pemerinta ataupun dinas yang terkait.
Kliennya merupakan penyakit tanaman ataupun hama pada tanaman.
Aktivitas klinik tanaman di lapangan:
1. Survei
Pengambilan sampel tanaman
Peralatan yang diperlukan:
a. Guntin
b. cutter/pisau
c. kantong plastik
d. Botol
e. Label
f. Tali rafia
g. karet gelang
h. buku catatan dan pensil
i. gunakan sepatu lapangan dan baju lengan panjang
j. Topi dan sarung tangan
k. Wadah khusus untuk sampel
2. Pengambilan sampel tanaman sakit
a. Penyakit
Ambil tanaman sakit dan tanaman sehat atau bagian tanaman sakit atau yang sehat
b. Hama
Ambil bagian yang terserang hama dan orgasme penyebabnya (larva, pupa, telur dan imago)
3. Mengemas (membungkus sampel tanaman)
masukkan sampel ke dalam kantong plastik ,diberi tisu basah supagi bagian tanamn tersebut tetap segar
tambahkan label (tanggal pengambilan dan umur tanaman serta lokai)dan jenis atau varieatas tanaman
4. Membuat catatan
Kumpulkan informasi tentang gejala ditanaman, perlakuan yangdiberikan (pupuk,pestisida)dosis cara
aplikasi.
5. Bawalah ke laboratorium
Waktu yang diperlukan sesingkat mungkin (kemasan utuh) dalam keadaan yang baik, wadah yang aman
langkah dalam pelayanan di klinik tanaman adalah sebagai berikut :
1. Pengambilan sample
1. Pengambilan sample
Ambil sample yang akan diidentifikasi lanjut
2. Identifikasi
2. Identifikasi
Lakukan identifikasi secara morfologi terlebih dahulu, dan dapatkan hasil pendugaan
3. Isolasi
3. Isolasi
Untuk memastikan benar atau salahnya pendugaan pada identifikasi, lakukan isolasi
4. Reisolasi
5. Permurnian
6. Rekomendasi Pengendalian
4. Reisolasi
5. Permurnian
6. Rekomendasi Pengendalian
Pengambilan keputusan pengendalian apa yang harus dilakukan atau memberikan pilihan pengendalian yang
tepat.
Sumber : Dr.Ir.Chandra Irsan, M.Si.
http://nurhayatisite.blogspot.com/
Sumber : Dr.Ir.Chandra Irsan, M.Si.
http://nurhayatisite.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)